Rabu, 12 September 2012

SAVIOUR

S A V I O U R

Satu kata yang sulit kumengerti.
tapi dulu
Arti yang bagiku 'abstrak'.
meskipun berapa kali aku mendengar dan menyanyikannya
Meskipun tahu siapa yang dimaksud, aku masih belum bisa mengerti dan percaya.
tapi dulu

SAVIOUR means PENYELAMAT
dan PENYELAMAT itu Tuhan YESUS !!

PENYELAMAT menurutku seseorang yang MENYELAMATKAN, MEMBEBASKAN dari semuanya, memberi NEW +++

Seseorang yang membebaskan dan menyelamatkan kamu dan aku
tidak setengah-setengah !!

Lagu penyembahan favoritku yang pertama adalah JURU SELAMAT
aku sendiri tidak tahu kenapa.
Album favorit Hillsong yang pertama adalah SAVIOUR KING
jangan tanya kagi kenapa, aku sendiri pun tidak tahu.

Semua yang terjadi begitu saja
pahit dan manis nya hidup
membuatku lebih mengenal pribadi Nya lebih dalam
sebagai
 SAVIOUR KING = JURU SELAMAT

aku percaya keselamatan yang DIA anugerahkan,
aku berdoa kamu pun mengalami dan percaya juga :)

Amen~

Jb~

Minggu, 02 September 2012

Perhatian Sederhana yang Manis dari Tuhan 1

Jumat, di perpustakaan aku sudah mengincar satu buku komik yang ingin sekali kupinjam. Bukunya berjudul "Petualangan Tintin" karya Hergé . Sayangnya buku itu terletak di bagian referensi, dimana hanya dosen yang boleh meminjamnya..
"Ah~ enaknya jadi dosen bisa meminjamnya meski cuma 1 hari" sungutku. Kuletakkan kembali buku itu padahal baru beberapa halaman aku baca.
Aku pulang dengan kecewa. "Kapan ya Tuhan aku bisa membaca buku Tintin? Coba aku punya. Tapi...." (kurasa tidak mungkin ada yang menjualnya, buku itu dari luar negri dan berbahasa inggris)

Eh, ga taunya waktu hari minggu..

Seharusnya aku dan 2 temanku ke Gereja misa pagi, tapi karena kami telat, kami memutuskan untuk misa sore saja. Lalu kami pergi ke mall sampai sore tiba. Salah satu temanku langsung menuju ke toko buku Gramedia yang saat itu sedang mengadakan diskon besar-besaran.
Belum ada beberapa menit mataku langsung tertuju pada cover buku kuning yang tinggal 2..
"Aaah~ Itu kan komik Tintin!!!" batinku. Langsung aku tanya harganya ke penjaganya.
"Rp... mbak, diskon jadi Rp... (50%)"
Langsung aku ambil komiknya dan aku timang-timang, tidak mau kulepaskan. Senangnya meski cuma 1 seri ini saja yang tersisa.

ANEHnya, seri itu, seri yang belum selesai kubaca di perpustakaan. Kok PAS ya?? Itu buku yang ingin aku baca dan..Tuhan benar-benar sediakan persis. Wah~ aku baru menyadarinya ..

Benar-benar PERHATIAN SEDERHANA yang MANIS dari TUHAN :]

HEBAT lah Tuhan.. wk7~

Minggu, 26 Agustus 2012

Takut Kasih, takut mengasihi

"Tuhan, aku takut mencintai, aku takut mengasihi lagi.. Aku tidak mau mengasihi siapapun lagi..
Apa itu cinta, Tuhan?"
(meringkuk di pojok tempat tidur dengan lampu mati)

Terbayang jelas di ingatan semua tentang 'onna' itu dan aku...lakukan....

"Aku tidak mau mengasihi lagi.. Aku tidak mau.. Aku tidak mau kasih.."
(gemetar sambil memegang kepala)
"Gara-gara mengasihinya aku jadi seperti ini"

Kejadian pertama,
'.....' :( 'kenapa aku mencemaskan mereka?' melihat beberapa waria (maaf) mangkal di perempatan sedang ngamen dan kadang dibuat lelucon oleh mereka yang lewat. 'kenapa ini, aku tidak suka pandangan orang-orang itu kepada mereka?'
'Tidak Tuhan.. Aku tidak mau mengasihi mereka lagi.. Aku tidak mau mengasihi lagi!'

Kejadian kedua,
'kenapa bunuh diri?' 'Jangan!!' melihat berita di web dan koran tentang seorang gay yang bunuh diri.
'kenapa aku sedih?' 'Tidak, aku tidak boleh mengasihi lagi! Aku tidak mau mengasihi lagi!'

Kejadian ketiga,
'......' :( 'Tuhan tidak pernah salah menciptakan orang, kan.. Kenapa mesti berubah gender?'
'kenapa aku sedih?' membaca artikel-artikel di internet.

Kejadian ...................................

"Gara-gara mengasihinya 'onna' itu jadi.....lebih parah. Aku benar-benar bodoh" :'(
(meringkuk lagi di pojok tempat tidur)

"Aku tidak mau mengasihi lagi.. Aku takut mengasihi lagi.. Tidak itu bukan kasih (teringat kata orang-orang terdekat tentang 'onna' itu dan aku) jadi apa itu kasih? Apa itu cinta yang sebenarnya, Tuhan? Apa aku tidak bisa mencintai? Jadi selama ini yang kulakukan bukan kasih tapi (seperti yang mereka katakan) :( "

*        *              *
    *             *
Hanya karena Dia
Kita bisa mencintai
Karena kita tahu kita dicintai.
begitu kutipan dari salah satu web yang aku baca

Saat aku sedang tidak memikirkannya tiba-tiba saja...
'Kau mengasihi dia karna Aku lebih dulu mengasihimu.. Sama sewaktu dulu aku mengasihiMu yang seperti 'itu', kau pun mengasihi dia yang seperti 'itu' juga'(kaget)
Hanya karena Dia
Kita bisa mencintai
Karena kita tahu kita dicintai.
(tercengang)
'Jadi..?'
'Yang kau lakukan itu 'kasih' (tidak termasuk yang 'itu') karna Aku lebih dulu mengasihimu.
Jangan pernah berhenti mengasihi setakut apapun itu'

saat sedang mengetik ini entah kenapa aku jadi teringat "Kasih yang sempurna mengalahkan segala ketakutan" Apa itu yang dimaksud?
aku mulai ragu lagi _ _)

Ah, entahlah.. Tapi memang benar karna Dia mencintaiku dulu yang seperti 'itu', makannya setiap melihat orang yang mirip denganku rasanya miris ini ga pernah hilang...

Tuhan aku ingin mulai mencintai karna Kau sudah mencintaiku dulu.. Love U :) sweetest smile

Sabtu, 25 Agustus 2012

Khawatir Tertolak

Dear Iesu... Aku sangat takut tertolak.. Aku sangat takut... Tiap kali ada yang berkaitan dengan "Sod-mora", pikiran tertolak dan pandangan jijik dari orang lain muncul.. Tidak ada yang mau mendekati dan berteman denganku.. Tidak ada...
Aku takut... Aku sedih...
tapi aku..tidak ingin kembali... Mungkin mereka akan lebih menerimaku tapi aku.....perih :(

Homosexuality.. How? Why? Who? What? Where? When?

Kisah tentang seorang Lesbian yang bertobat. Tuhan Yesus memulihkan hidupnya.



Berharga

Suatu kali temanku yang datang bertanya padaku, "Itu kalung baru ya?"
"Eh, bukan sudah lama kok."
"Oh, sudah lama tapi baru dipakai ya?"
"Iya." jawabku sambil tersenyum.
"Pasti dari mamamu."
Aku terkejut, "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Nebak aja"
"Kok bisa tau?" Aku makin heran. 

"Soalnya kalau aku perhatiin selama ini yang berharga bagimu itu mamamu deh"
Aku terdiam.. "Benarkah?" tanyaku lagi."

"Iya" jawab temanku mantab.
("Benarkah orang yang berharga bagiku, tapi aku malah menyakitinya" perih rasanya.)

Seseorang, eh beberapa orang sih pernah bilang ke aku kalau justru orang lain lah yang bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat. Maksudnya secara tidak sadar lewat body language kita.
Aku pernah merasa bersikap biasa-biasa saja dengan gerakan orang yang sewajarnya, tapi orang-orang di sekitarku seakan bisa tau kalau aku seperti sedang muram dan kayak orang ling lung, padahal emang aku sedang memendam banyak masalah..

Aku sedih dan kecewa dengan diriku sendiri. Aku malah lebih sering menyakiti orang yang paling berharga bagiku. Baik secara langsung, tidak langsung bahkan diam-diam.

Kalung itu kalung salib dengan beberapa bagian yang hampir rusak, tapi entah kenapa sangat berharga bagiku. Selain karena mama yang memberikannya tapi juga seperti di dalamnya ada doa seorang ibu yang sangat kuat dan tidak ada habis-habisnya. Doa yang melindungiku.

Maaf ma', da', aku bukan anak baik yang seperti kalian inginkan, tapi terimakasih tetap mencintai dan menganggapku anak kalian yang berharga..

Minggu, 22 Juli 2012

"Chamber" by Brian Moore

Inilah esai Brian yang berjudul "Ruangan".

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul "Cewek-cewek yang Aku Suka". Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul "Teman-Teman" ada di sebelah arsip yang bertanda "Teman-teman yang Aku Khianati". Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. "Buku-buku Yang Aku Telah Baca". "Dusta-dusta yang Aku Katakan". "Penghiburan yang Aku Berikan"."Lelucon yang Aku Tertawakan". Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: "Makian Buat Saudara-saudaraku".

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: "Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.", "Gerutuanku terhadap Orangtuaku". Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda "Pertunjukan-pertunjukan TV yang Aku Tonton", aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu.Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda "Pikiran-Pikiran yang Ngeres", aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan
menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip ini! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul"Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil". Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya.Aku dapatmenghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaanyang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya.ku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. "Jangan!" seruku bergegas kearah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah "Jangan, jangan!" ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada dikartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah,begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, "Sudah selesai!"

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Jika anda ingin meneruskan pesan ini kepada sebanyak mungkin orang-orang sehingga kasih
Tuhan Yesus akan menjamah hidup mereka, forwardlah email ini! Arsip "Orang-Orang yang Aku Bagikan Injil" milikku akan makin bertambah besar, bagaimana dengan milik anda?